Kesederhanaan papa
(ditulis di atas kereta, 21 sept 2010 7.42)
Dulu, waktu aku masih kecil, ketika ditanya tentang siapa idolaku, aku menjawab mantap BJ habibie, namun beberapa waktu kemudian aku punya jawaban lain, Soekarno walaupun kekagumanku pada BJ habibie tidak berkurang. Dan seiring waktu berjalan, banyak lagi orang2 hebat lainnya yang benar2 menginspirasi hidupku hingga kemuadian akupun mengidolakan mereka. Namun jika sekarang aku ditanya kembali, siapakah idolaku yang nomor satu? Dengan mantap akan ku jwab, PAPA.
Ya, tak usahlah aku membicarakan bagaimana suksesnya beliau sebagai seorang pemimpin, karena sudah terbukti sekarang hasil kepemimpinannya yabg menghasilka. Keluarga kecil ya g mandiri dan bahagia. Tak perlu juga membicarakan tentang kemampuannya sebagai konseptor dan komunikator ulung karena telah terbukti bahwa beliau bisa menjaga komunikasi baik dengan anak2nya dengan tetap akrab dan hormat, maupun dengan org2 yg lbh tua darinya. Kali ini aku ingin membahas tentang kesederhanaan papa, yang seringkali…ah tidak, selalu, membuatku iri.
Dengan berangkat dari garut ketika muda, beliau mungkin tak pernah menduga bahwa hidupnya akan seperti sekarang. Tapi toh keberhasilannya menaklukan kota bandung ini, tidak membuatnya pongah dan merasa bisa melakukan semuanya. Dia tetap ingat dari mana asalnya sehingga membuatnya selalu, ya, selalu bersyukur atas apa yang dia miliki sekarang.
Dan kau tau, apa yang membuatku makin kagum pada papa. Adalah impian masa tuanya yang begitu simple dan sederhana. Di penghujung masa kerjanya, beliau hanya ingin punya rumah kecil untuk ditempati bersama mama yabg terletak di depan mesjid sehingga beliau tidak harus jauh berjalan, seperti yang beliau selalu lakukan setiap pagi sebelum shubuh. Beliau pun hanya menginginkan bisa berjualan di pasar, bukan mencari uang, karena yg dijualnya hanyalah plastik yang kurang laku, tapi untuk berkumpul dengan orang banyak untuk mengobrol sebagai hasrat seorang pensiunan pegawai negeri.
Beliau adalah sosok seorang mandiri yang jarang sekali menggantungkan diri pada org lain, bahkan padaku, ketika aku sudah pada tahap bisa memberikan “materi”. Bukan karena kaya, tapi semata2 karena gaya hidupnya yang sederhana, gaya hidup yang dia juga tanamkan pada keluarganya. Beliau tahu kapan harus berusaha setengah mati, dan kapan harus berhenti dan bersyukur atas apa yang dimiliki saat ini.
Oleh karenanya, papa akan jadi idolaku, baik sebagai ayah dan lelaki. Happy birthday, my dearest dad! May u always be happy and blessed. Hope I can always make u proud of me…
Ulang tahun papa
21 September 2010
Advertisement